Hidup sehat dan bugar, serta tetap aktif
dalam usia yang sudah lanjut adalah dambaan banyak orang. Namun, penambahan
usia semakin lama akan mengalami penurunan fungsi organ dan akan timbul
berbagai penyakit. Penyakit pada usia lanjut yang sering kita temui adalah
osteoporosis atau sering disebut sebagai pengeroposan tulang. Pada usia 40
tahun keatas akan rawan mengalami osteoporosis terutama untuk kaum perempuan.
Banyak
bermavam – macam penyakit tulang namun berbeda dengan osteoporosis seperti
rematik akan dianggap sebagai gejala osteoporosis padahal pengertian rematik
berbeda dengan osteoporosis. Rematik adalah penyakit mengenai sendi atau
jaringan penunjang sekitar sendi. Sedangkan osteoporosis merupakan penyakit
tulang yang mengalami pengeroposan.
Tulang
merupakan bagian tubuh yang penting sebagai penyangga tubuh dan merupakan
kerangka untuk berbagai organ dan jaringan manusia. Yang terdiri dari tulang
keras, tulang rawan (kartilago), sendi, ligament (jaringan ikat) serta tendon.
Komposisi tulang terdiri dari mineral – mineral seperti kalsium, dan fosfat
yang menjadikan tulang keras dan tidak mudah patah. Tulang sangat didukung oleh
hormone pertumbuhan tulang yaitu hormone paratiroid, kalsitonin, esterogen
untuk wanita dan testosterone untuk laki – laki. Dan dibutuhkan vitamin D untuk
menyerap kalsium dari makanan untuk dimasukan tulang.
Pengikat
dan penguat sebagai struktur tulang adalah kolagen, glukosamin, dan kondriotin
sulfat. Kolagen merupakan protein tulang yang menjadikan elastis dan tidak
mudah patah. Glukosamin merupakan gula sebagai pembentuk tulang rawan dan
pelumas sendi. Sedangkan kondriotin sulfat adalah molekul yang bersifat lentur
atau berfungsi sebagai bantalan akibat tekanan, gesekan, atau beban tubuh
sehingga memperlancar kerusakan tulang.
Dan
osteoporosis merupakan penyakit dengan tanda utama berupa berkuranganya
kepadatan massa tulag yang berakibat meningkatnya kerapuhan tulang dan
meningkatnya resiko patah tulang. (WHO, International Consensus Development
Conference, Roma, 1992).
Penyebab
osteoporosis secara garis basar dikarenakan menopause, usia lanjut, pemakaian
obat kortikosteroid, gangguan metabolism, gizi buruk, penyerapan yang buruk,
penyakit tulang sumsum, gangguan fungsi ginjal, penyakit hepar, penyakit paru
kronis, cedera urat saraf tulang belakang, rematik, transplantasi organ. Jenis
– jenis osteoporosis menurut penyebabnya juga dapat disebutkan seperti
osteoporosis postmenopausal yang terjadi karena kurangnya hormone esterogen,
osteoporosis senilis yang berakibat dari kurangnya kalsium karena ketidak
adanya keseimbangan kebutuhan kalsium dengan kecepatan hancurnya tulang, dan
selanjutnya adalah osteoporosis juvenile idiopatik yang tidak pernah diketahui
penyebab dari pengeroposan tulang karena terjadi pada anak – anak dan dewasa
muda yang mempunyai kadar hormone dan vitamin yang normal.
Terdapat
factor yang mempengaruhi terjadinya osteoporosis pada seseorang yaitu menopause
dini, kurang olahraga, merokok, minum alcohol, badan kurus, tidak punya anak,
asupan kalsium rendah, kontak dengan sinar matahari pagi dan sore kurang,
pemakai obat kortikosteroid serta ada riwayat keturunan osteoporosis. Dan
gejala – gejala osteoporosis yang akan muncul yaitu nyeri yang terus menerus dan tak kunjung
hilang, tubuh mulai memendek, rawan terjadi patah tulang terutama tulang
pinggul, disertai gejala menopause : panas, berkeringat, keputihan, susah tidur
dan pasca menopause : pelupa, nyeri tulang belakang.
Pengobatan
untuk meningkatkan kepadatan tulang pada penderita osteoporosis adalah harus
mengkonsumsi kalsium dan vitamin D dalam jumlah yang mencukupi. Melakukan
terapi hormone juga dapat memperlambat terjadinya osteoporosis namun terapi ini
tidak dianjurkan pada perempuan yang pernah mengalami kanker payudara dan
kanker kandungan. Untuk pencegahan awal adalah menerapkan pola hidup sehat jauh
lebih murah biayanya ketimbang terkena gangguan osteoporosis.
Sumber : 2007,Seri Kesehatan Populer
OSTEOPOROSIS karya dr.Iskandar Junaidi,Jakarta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar