Jumat, 25 November 2016

cedera olahraga



Kegiatan olahraga dapat menyebabkan suatu cidera yang dialami system otot atau kerangka tubuh. Cedera yang sering dialami pada saat dilakukan kegiatan olahraga yaitu patah tulang karena adanya tekanan, cedera pada lutut, punggung, sikut atau lengan, kepala dan kaki. Hal ini terjadi akibat metode latihan yang salah, tidak dilakukan pemanasan terlebih dahulu sebelum dilakukan latihan atau pertandingan, adanya kelainan tubuh secara structural, kelemahan pada otot dan cedera terjadi karena proses penggunaan jangka panjang, pergerakan yang berulang – ulang serta menekan jaringan yang peka.
            Metode latihan yang salah merupakan penyebab paling sering dari cedera otot dan sendi. Penderita selalu masih merasa kuat dan tidak memberikan waktu untuk pemulihan ketika mulai timbul rasa nyeri. Setiap kali otot tertekan oleh aktivitas yang intensif, beberapa otot mengalami cidera dan otot lainnya menggunakan cadangan energy yang tersimpan untuk penyembuhan serat – serat otot yang memerlukan waktu relative 2 hari. Sedangkan tubuh yang mengalami kelainan structural dapat menyebabkan seseorang lebih peka terhadap cedera olahraga karena adanya tekanan yang tidak semestinyapada bagian tubuh tertentu. Jika sesorang memiliki pergelangan kaki yang kaku, akan terjadi kebalikan posisi yaitu pronasi yang kurang. Kaki kelihatan memeliki lengkung yang sangat tinggi dan tidak dapat menyerap goncangan dengan baik sehingga meningkatkan resiko terjadinya retakan dalam tulang kaki dan tungkai.

OSTEOPOROSIS



Hidup sehat dan bugar, serta tetap aktif dalam usia yang sudah lanjut adalah dambaan banyak orang. Namun, penambahan usia semakin lama akan mengalami penurunan fungsi organ dan akan timbul berbagai penyakit. Penyakit pada usia lanjut yang sering kita temui adalah osteoporosis atau sering disebut sebagai pengeroposan tulang. Pada usia 40 tahun keatas akan rawan mengalami osteoporosis terutama untuk kaum perempuan.
            Banyak bermavam – macam penyakit tulang namun berbeda dengan osteoporosis seperti rematik akan dianggap sebagai gejala osteoporosis padahal pengertian rematik berbeda dengan osteoporosis. Rematik adalah penyakit mengenai sendi atau jaringan penunjang sekitar sendi. Sedangkan osteoporosis merupakan penyakit tulang yang mengalami pengeroposan.

            Tulang merupakan bagian tubuh yang penting sebagai penyangga tubuh dan merupakan kerangka untuk berbagai organ dan jaringan manusia. Yang terdiri dari tulang keras, tulang rawan (kartilago), sendi, ligament (jaringan ikat) serta tendon. Komposisi tulang terdiri dari mineral – mineral seperti kalsium, dan fosfat yang menjadikan tulang keras dan tidak mudah patah. Tulang sangat didukung oleh hormone pertumbuhan tulang yaitu hormone paratiroid, kalsitonin, esterogen untuk wanita dan testosterone untuk laki – laki. Dan dibutuhkan vitamin D untuk menyerap kalsium dari makanan untuk dimasukan tulang.
            Pengikat dan penguat sebagai struktur tulang adalah kolagen, glukosamin, dan kondriotin sulfat. Kolagen merupakan protein tulang yang menjadikan elastis dan tidak mudah patah. Glukosamin merupakan gula sebagai pembentuk tulang rawan dan pelumas sendi. Sedangkan kondriotin sulfat adalah molekul yang bersifat lentur atau berfungsi sebagai bantalan akibat tekanan, gesekan, atau beban tubuh sehingga memperlancar kerusakan tulang.
            Dan osteoporosis merupakan penyakit dengan tanda utama berupa berkuranganya kepadatan massa tulag yang berakibat meningkatnya kerapuhan tulang dan meningkatnya resiko patah tulang. (WHO, International Consensus Development Conference, Roma, 1992).
            Penyebab osteoporosis secara garis basar dikarenakan menopause, usia lanjut, pemakaian obat kortikosteroid, gangguan metabolism, gizi buruk, penyerapan yang buruk, penyakit tulang sumsum, gangguan fungsi ginjal, penyakit hepar, penyakit paru kronis, cedera urat saraf tulang belakang, rematik, transplantasi organ. Jenis – jenis osteoporosis menurut penyebabnya juga dapat disebutkan seperti osteoporosis postmenopausal yang terjadi karena kurangnya hormone esterogen, osteoporosis senilis yang berakibat dari kurangnya kalsium karena ketidak adanya keseimbangan kebutuhan kalsium dengan kecepatan hancurnya tulang, dan selanjutnya adalah osteoporosis juvenile idiopatik yang tidak pernah diketahui penyebab dari pengeroposan tulang karena terjadi pada anak – anak dan dewasa muda yang mempunyai kadar hormone dan vitamin yang normal.
            Terdapat factor yang mempengaruhi terjadinya osteoporosis pada seseorang yaitu menopause dini, kurang olahraga, merokok, minum alcohol, badan kurus, tidak punya anak, asupan kalsium rendah, kontak dengan sinar matahari pagi dan sore kurang, pemakai obat kortikosteroid serta ada riwayat keturunan osteoporosis. Dan gejala – gejala osteoporosis yang akan muncul yaitu  nyeri yang terus menerus dan tak kunjung hilang, tubuh mulai memendek, rawan terjadi patah tulang terutama tulang pinggul, disertai gejala menopause : panas, berkeringat, keputihan, susah tidur dan pasca menopause : pelupa, nyeri tulang belakang.
            Pengobatan untuk meningkatkan kepadatan tulang pada penderita osteoporosis adalah harus mengkonsumsi kalsium dan vitamin D dalam jumlah yang mencukupi. Melakukan terapi hormone juga dapat memperlambat terjadinya osteoporosis namun terapi ini tidak dianjurkan pada perempuan yang pernah mengalami kanker payudara dan kanker kandungan. Untuk pencegahan awal adalah menerapkan pola hidup sehat jauh lebih murah biayanya ketimbang terkena gangguan osteoporosis.




Sumber : 2007,Seri Kesehatan Populer OSTEOPOROSIS karya dr.Iskandar Junaidi,Jakarta.